Salah satu usaha peternakan unggas yang telah memasyarakat dan sudah tersebar diseluruh pelosok nusantara adalah unggas lokal terutama ayam lokal. Ayam lokal memiliki peranan yang cukup besar dalam mendukung ekonomi pedesaan. Dibandingkan dengan ayam non lokal, ayam lokal mempunyai banyak kelebihan antara lain kemampuan daya adaptasi terhadap lingkungan yang sangat baik, mudah dalam pemeliharaan dan relatif lebih tahan terhadap penyakit.

Salah satu jenis ayam lokal yang cukup dikenal di Jawa Tengah adalah ayam Kedu. Sesuai dengan namanya maka ayam ini banyak ditemukan di daerah eks karesidenan Kedu, Kabupaten Temanggung. Ayam Kedu berasal dari daerah Karesidenan Kedu – Jawa Tengah terutama di Kabupaten Temanggung. Sebagai sumber plasma nutfah, ayam Kedu merupakan salah satu jenis kekayaan alam (fauna) yang sudah populer, karena telah tersebar di kota-kota di seluruh Indonesia. Melalui SK Menteri Pertanian No. 2847/Kpts/LB/430/8/2012 tanggal 13 Agustus 2012 Ayam Kedu ditetapkan sebagai salah satu Sumber Daya Genetik Ternak Lokal Indonesia.

Peternak ayam kedu pada dasarnya tidak mengerti dan tidak mempunyai pengalaman dalam merencanakan pembibitan dengan baik sehingga produktivitas ayam Kedu mengalami penurunan. Selain itu pemeliharaannya masih dilakukan secara tradisional dengan pemberian pakan yang juga kurang memperhatikan kebutuhan nutrien sesuai dengan tingkat produksi dan tujuan pemeliharaan. Langkah yang penting dalam program pelestarian dan pengembangan adalah mendapatkan galur murni (pure line) dari ayam Kedu unggul (Dugul), yaitu dengan tahapan sebagai berikut: pelaksanaan evaluasi fenotip dan genotip, penerapan teknologi biogenetika bioreproduksi, menentukan sistim seleksi dan perkawinan yang berkelanjutan, dan melakukan evaluasi ternak untuk kriteria sifat unggul. Seleksi adalah suatu tindakan untuk memilih ternak yang dianggap mempunyai mutu genetik baik untuk dikembangbiakkan lebih lanjut serta memilih ternak yang kurang baik untuk disingkirkan dan tidak di kembangbiakkan. Di sisi lain melakukan seleksi tidak dapat dipisah dengan perkawinan. Upaya-upaya untuk menerapkan sistem perkawinan dan seleksi yang terprogram yang keduanya sebagai kunci pencapaian peningkatan mutu genetik ternak dengan muara akhir peningkatan performan baik dari sisi produktivitas maupun kualitas reproduksi ayam kedu. Upaya peningkatan kualitas ayam kedu inilah yang menjadi pokok penelitian bersama antara peneliti peternakan Fakultas Peternakan dan Pertanian Undip dan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jateng. Keterangan lebih lanjut mengenai proses penelitian dapat dibaca di Konservasi Ayam Kedu: Pemurnian Galur Ayam Kedu.