(WATES, 22 Januari 2019) – Tersembunyi di lembah perbukitan, terletak di kaki gunung, dan terberkahi tanah yang subur, Desa Wates menyuguhkan pemandangan alam yang telah terjamah maupun belum terjamah tangan penikmatnya. Lereng Gunung Prau bukan hanya menjadi tempat mengakarnya budaya cocok tanam komoditas pertanian penduduk Desa Wates, namun juga tempat mengakarnya sikap kecintaan masyarakat terhadap alam.

Bukit Larikan, satu nama yang tak asing diantara kenampakan alam Desa Wates. Sebuah bukit yang terletak di bagian Timur Laut Dusun Wates, menetap diantara lembah-lembah yang telah diolah menjadi ladang sayur-mayur warga, merupakan bukit yang telah dijamah untuk diolah menjadi salah satu tujuan wisata bagi pendatang, dan masyarakat sekitarnya. Kami, KKN Univeristas Diponegoro Tim I yang diberikan kepercayaan untuk mengabdi di Desa Wates mengunjungi dan menjamah Bukit Larikan, sebagai wisatawan.

Apa yang disuguhkan?

Jalan setapak yang menghantarkan pengunjung mendekati badan Bukit Larikan menyuguhkan pemandangan dan aroma lembah perbukitan yang telah diolah menjadi ladang milik warga sekitar. Aktivitas satwa endemik Bukit Larikan pun menyambut kedatangan pengunjungnya. Salah satu satwa yang tidak malu-malu menunjukkan keberadaannya adalah Burung Hantu yang menghuni pepohonan di Bukit Larikan, yang notabene oleh warga Desa Wates keberadaannya sangat dilindungi.

Namun, akses menuju Bukit Larikan terbilang tidak mudah bagi pengunjung yang belum terbiasa dengan lansekap lereng pegunungan. Tangga sebagai sarana akses utama menuju puncak Bukit Larikan dibuat dari tanah rebakan dari kelerengannya yang dilakukan secara manual oleh pengelola perintisnya. Licin dan tidak teratur, tentu saja. Tidak ada railing untuk kami berpegangan, sembari mengatur napas, kami merambat, menggapai dahan-dahan semak belukar untuk berpegangan, dan menjejakkan kaki perlahan, namun disitulah kami menemukan senasi khas Bukit Larikan.

Di akhir anak tangga, pengunjung akan disambut oleh instalasi bambu yang dirangkai membentuk gubuk, anggap saja pos pertama di lajur pendakian Bukit Larikan. Untuk menuju wahana utamanya, pengunjung harus berjalan kaki -mendaki lebih tepatnya- melewati jalan setapak yang terarah oleh pepohonan menuju ke puncak. Dan ya, tidak mudah bagi kami, anak-anak KKN Univeritas Diponegoro Tim I Desa Wates, yang masih beradaptasi dengan tanjakan dan suhu dinginnya yang menggigit. Rumput-rumput ilalang yang meninggi dan mencuat kesana-kemari membangkitkan rasa penasaran kami akan si puncak.

Apa yang kami temukan?

Fasilitas utama Bukit Larikan seperti sitting group, gazebo, dan bahkan gardu pandang sudah tidak dalam kondisi terbaiknya. Bambu sebagai struktur utama fasilitas-fasilitas tersebut sudah lama lapuk, dan ditumbuhi tanaman liar. Ya, memang Bukit Larikan sudah lama tidak diberi perhatian, ujar Kepala Desa Wates. Namun, bukan hanya itu yang kami temukan, yang paling menarik dari Bukit Larikan adalah pemandangan yang disuguhkan. Di ujung gardu pandang, hamparan perbukitan dan ladang milik warga Desa Wates tiada duanya.

Dari kami yang menilik Bukit Larikan, ditemukan sebuah potensi yang dapat dikembangkan, hingga bahkan dapat dijadikan daya tarik utama Desa Wates. Masih ada kesempatan untuk merawat dan memperhatikan kembali Bukit Larikan. Maka, reportase kami yang memuat Bukit Larikan, sekaligus kami jadikan sebagai sebuah rekam jejak Bukit Larikan itu sendiri. Mari kita nantikan kembalinya Bukit Larikan di masa depan ya kawan!

Kondisi tangga utama Bukit Larikan
Pemandangan dari Bukit Larikan

KKN TIM 1 UNDIP 2019 DESA Wates, Wonoboyo Temanggung