Semarang (Oktober, 2019) – Telah dilakukan program kerja pengabdian masyarakat “Pelatihan Menulis Resep Masakan Dalam Bahasa Inggris Bagi Siswa Jurusan Tata Boga SMK Ibu Kartini Semarang”, program kerja pengabdian tersebut merupakan kegiatan pelatihan bagaimana cara membuat panduan cara membuat suatu masakan dengan bahasa inggris. Yang mana program ini dilakukan oleh Ratna Asmarani, Hadiyanto dan C.A.P. Ellysafni dari Tim Pengabdian Masyarkat 2019, kegiatan ini ditujukan untuk para siswa jurusan tata boga SMK Ibu Kartini. Kegiatan ini dilakukan untuk mempromosikan pariwisata perlu dilakukan agar kunjungan wisatawan mancanegara menujuobjek-objek pariwisata yang dipomosikan meningkat. Tujuan kegiatan pelatihan ini adalah agar resep masakannya dikenal luas tidak hanya di dalam negeri namun juga di luar negeri.

Memasak adalah kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh banyak orang, mulai memasak makanan sederhanauntuk kebutuhan sehari-hariatau memasak makanan yang cukup rumit untuk peristiwa-peristiwa khusus. Terkadang orang melihat resep masakan terutama jika ia akan memasak jenis makanan baru yang belum pernah ia coba. Terkadang pula sesorang menuliskan resep masakan kreasinya, atau resep masakan keluarga turun menurun yang selama ini hanya berada dalam ingatan.Menuliskan resep masakan yang baik tidak bisabersifat asal-asalan. Ada beberapa poin yang harus diikuti agar resep masakan tersebut bisa secara umum dipahami oleh banyak orang. Untuk tujuan itulah maka diadakan pelatihan penulisan resep masakan dalam bahasa Inggris di jurusan tata boga SMK Ibu Kartini.

Setelah peserta pelatihan memahami cara menulis resep masakan yang baik dan benar dalam bahasa Inggris, peserta yang merupakan siswa SMK Ibu Kartini jurusan tata boga diberi contoh resep masakan yang lengkap dalam bahasa Inggris. Tujuannya agar peserta pelatihan lebih bisa memahami model penulisan resep masakan yang benar dan lengkap.

Siswa jurusan tata boga SMK Ibu Kartini Semarang mengikuti pelatihan singkat tentang menulis resep masakan yang baik dalam bahasa Inggris dengan penuh antusias. Sesi presentasi materi dan latihan diikuti dengan penuh keseriusan. Tidak ada rasa terbebani dalam mengikuti pelatihan singkat ini karena materi yang diberikan sesuai dan mendukung kegiatan di jurusan yang mereka pilih. Suasana pelatihan yang serius tapi santai sesuai dengan jiwa muda mereka. Metode bilingual juga membuat siswa lebih berani mengajukan pertanyaan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pelatihan yang tepat guna sangat diperlukan untuk menopang skill praktis siswa. Diharapkan secara periodik siswa mendapat beragam pelatihan yang sesuai dengan jurusan khusus mereka.