
Semarang (23/7). Kelompok Tani Wanita (KWT) yaitu salah satu lembaga non-kepemerintahan yang ada di Kelurahan Purwosari. Kegiatan rutin yang dilakukan oleh lembaga ini ialah bercocok tanam, terutama tanaman TOGA (Tanaman Obat Keluarga). Beberapa tanaman TOGA yang ada di Kawasaan KWT, diantaranya telang, kunyit, jahe, okra, katuk, dan lain sebagainya.
Hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan budidaya tanaman obat salah satunya adalah kesuburan tanah. Kesuburan tanah merupakan faktor utama penunjang pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Kesuburan tanah ditandai dengan kadar pH yang netral, memiliki tekstur lempung, warna tanah coklat kehitaman, dan gembur. Umumnya, pH tanah yang baik untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman yaitu antara 6,5 – 7,5.
Atikah Zulfa Fathina (21), Mahasiswi KKN Tim II Undip dari Program Studi S-1 Agroekoteknologi yang sedang menjalankan kegiatan KKN di Kelurahan Purwosari melakukan analisis kesuburan tanah di kawasan KWT. Komponen kesuburan tanah yang dianalisis yaitu nilai pH tanah. Berdasarkan pengujian pH yang dilakukan oleh mahasiswa KKN dari Program Studi S-1 Kimia, didapatkan informasi bahwa tanah di kawasan KWT memiliki pH 7,5 – 8 yang mana cenderung memiliki pH basa.

Solusi yang diberikan untuk menetralkan pH tanah yang basah di kawasan KWT yaitu dengan pemberian pupuk kandang kambing. Pupuk kandang kambing mengandung unsur hara seperti nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K) yang mana dapat menyuburkan tanah dan dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. pH tanah yang basa dapat disebabkan karena kekurangan bahan organik sehingga dapat dinetralkan menggunakan pupuk kandang kambing.
Mekanisme kegiatan edukasi yang dilakukan kepada ibu-ibu pengurus KWT, yaitu dengan diberikan sosialisasi, yang mana dalam kegiatan sosialisasi tersebut dijelaskan mengenai kondisi kesuburan tanah di kawasan KWT. Sebagai respon dari kegiatan tersebut, salah satu ibu-ibu pengurus KWT yang bernama Ibu Widodo memberikan pertanyaan “Apakah menetralkan pH bisa dilakukan menggunakan kapur dolomit?”. Kemudian, Atikah sebagai mahasiswa KKN memberikan jawaban mengenai pertanyaan ibu tersebut “Kapur dolomit bisa digunakan untuk menetralkan pH, tetapi bukan untuk menetralkan pH basa, melainkan untuk menetralkan pH yang asam”.
Penulis : Atikah Zulfa Fathina, Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Peternakan dan Pertanian
Editor : Zaki Ainul Fadli, S.S., M.Hum. (DPL KKN)