Tim peneliti dari Departemen Biologi Fakultas Sains dan Matematika (FSM) Universitas Diponegoro bersama Diponegoro Biodiversity Project (DBP) kembali melaksanakan penelitian biodiversitas laut di kawasan Taman Nasional Karimunjawa (TNKJ), Jawa Tengah. Pada tanggal 8–16 Mei 2026, tim melakukan retrieval atau pengangkatan Autonomous Reef Monitoring Structure (ARMS) yang telah ditempatkan di dasar laut selama satu tahun sebagai bagian dari program pemantauan biodiversitas terumbu karang jangka panjang.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Universitas Diponegoro dengan pendanaan dari National University of Singapore (Singapura), serta sejumlah peneliti dan mahasiswa dari berbagai institusi nasional dan internasional, antara lain Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS), Universiti Malaysia Terengganu (Malaysia), Nanyang Technological University (Singapura), dan The University of Hong Kong (Hong Kong). Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya pengembangan penelitian biodiversitas laut yang menghubungkan peneliti dari berbagai negara di kawasan Asia Pasifik.

Tim peneliti Universitas Diponegoro bersama kolaborator nasional dan internasional melakukan pengangkatan Autonomous Reef Monitoring Structure (ARMS) di perairan Taman Nasional Karimunjawa, Mei 2026 (Dok. Departemen Biologi, FSM, UNDIP).

Sebanyak 12 unit ARMS berhasil diangkat dari tiga lokasi penelitian di kawasan Taman Nasional Karimunjawa, yaitu Pulau Burung, Pulau Cemara Besar, dan Pulau Bengkoang. ARMS merupakan perangkat pemantauan biodiversitas yang dirancang menyerupai struktur berlapis sehingga dapat menjadi habitat bagi berbagai organisme laut. Karena kemampuannya menyediakan ruang hidup bagi beragam biota, ARMS sering disebut sebagai “hotel biodiversitas laut”.

ARMS (Autonomous Reef Monitoring Structure) merupakan perangkat pemantauan biodiversitas laut yang dikembangkan untuk menyediakan metode pengamatan yang terstandarisasi pada ekosistem terumbu karang. Struktur ini tersusun dari beberapa pelat PVC yang menyerupai ruang-ruang kecil di dalam terumbu karang alami, sehingga dapat menjadi tempat hidup dan berlindung bagi berbagai organisme laut, mulai dari invertebrata berukuran besar hingga organisme mikroskopis. Dengan menggunakan ARMS, peneliti dapat memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai keanekaragaman hayati yang terdapat pada suatu ekosistem serta membandingkannya dengan lokasi lain yang menggunakan metode serupa.

   

Penanaman ARMS berbahan PVC di perairan Karimunjawa pada 2025 sebagai bagian dari penelitian jangka panjang biodiversitas laut (Dok. Departemen Biologi, FSM, UNDIP).

Penelitian ini merupakan kelanjutan dari program penanaman Autonomous Reef Monitoring Structure (ARMS) yang dilakukan pada Mei 2025 di tiga lokasi perairan Taman Nasional Karimunjawa, yaitu Pulau Burung, Pulau Cemara Besar, dan Pulau Bengkoang. Setelah berada di dasar laut selama satu tahun, sebanyak 12 unit ARMS berhasil diangkat pada Mei 2026 untuk mengamati pola kolonisasi organisme serta mengungkap komposisi biodiversitas yang berkembang pada setiap struktur. ARMS yang digunakan mengacu pada standar internasional Global ARMS Program yang dikembangkan oleh Smithsonian Institution sehingga memungkinkan hasil penelitian dibandingkan dengan studi serupa di berbagai wilayah dunia.

Setelah satu tahun berada di bawah laut, setiap unit ARMS dibongkar secara sistematis untuk mendokumentasikan organisme yang telah berkolonisasi pada setiap lapisan struktur. Seluruh permukaan pelat difoto untuk merekam pola kolonisasi organisme, sementara organisme yang ditemukan dikoleksi, didokumentasikan, dan diawetkan untuk analisis lebih lanjut. Selain itu, sedimen yang tersisa pada struktur ARMS juga diproses guna memperoleh organisme berukuran sangat kecil yang hidup tersembunyi di dalam celah-celah terumbu karang.

ARMS yang telah berada di dasar laut Karimunjawa selama satu tahun sebelum dilakukan proses retrieval (Dok. Departemen Biologi, FSM, UNDIP).

Ketua peneliti, Ni Kadek Dita Cahyani, Ph.D., menjelaskan bahwa penggunaan ARMS memungkinkan peneliti mempelajari kelompok organisme cryptobiome, yaitu organisme berukuran kecil yang hidup tersembunyi di sela-sela terumbu karang dan sering kali tidak terdeteksi melalui metode survei konvensional. Kelompok organisme ini memiliki peran penting dalam menjaga fungsi dan stabilitas ekosistem terumbu karang, namun hingga saat ini masih relatif sedikit dipelajari.

Seluruh sampel hasil penelitian saat ini sedang menjalani proses identifikasi dan analisis di Laboratorium Ekologi dan Biosistematika Departemen Biologi FSM UNDIP serta Laboratorium Diponegoro Biodiversity Project. Peneliti akan memadukan pendekatan morfologi dan molekuler untuk mengungkap komposisi biodiversitas yang terdapat pada setiap unit ARMS.

Peneliti membongkar unit ARMS dan mendokumentasikan organisme yang hidup pada setiap lapisan struktur plate. Sedimen dari ARMS disaring untuk memperoleh organisme berukuran kecil yang berperan penting dalam ekosistem terumbu karang.  (Dok. Departemen Biologi, FSM, UNDIP).

Pemilihan Taman Nasional Karimunjawa sebagai lokasi penelitian didasarkan pada tingginya nilai biodiversitas kawasan tersebut. Sebagai salah satu taman nasional laut tertua di Indonesia, Karimunjawa memiliki ekosistem terumbu karang yang menjadi habitat penting bagi berbagai spesies ikan, invertebrata, dan mikroorganisme laut. Oleh karena itu, kawasan ini menjadi lokasi yang strategis untuk mempelajari dinamika biodiversitas laut tropis.

Melalui penelitian ini, tim berharap dapat menghasilkan data biodiversitas yang lebih komprehensif guna mendukung pengembangan ilmu pengetahuan, memperkuat basis data keanekaragaman hayati laut Indonesia, serta memberikan informasi ilmiah yang dapat dimanfaatkan dalam pengelolaan dan konservasi ekosistem terumbu karang di masa mendatang. Penelitian ini juga menunjukkan komitmen Universitas Diponegoro dalam mendorong riset kolaboratif dan berkontribusi pada upaya pelestarian sumber daya laut Indonesia secara berkelanjutan.