Science Summit at 77th United Nations General Assembly (SSUNGA77) tahun 2022 dilaksanakan untuk mendukung penguatan kolaborasi ilmu pengetahuan (science collaborations) dan sains global guna mendukung pencapaian United Nation Sustainable Development Goals (UN SDGs). Pertemuan ini juga dilakukan untuk mempersiapkan masukan kepada United Nations Summit of the Future, yang akan berlangsung selama UNGA78 pada September 2023. SSUNGA77 merupakan tempat bertemunya para pemimpin, pemikir, ilmuwan, inovator, pembuat kebijakan, pemodal, jurnalis dan pemimpin masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan dan kerja sama di berbagai bidang termasuk diantaranya, sosial, pangan, pertanian dan lingkungan.

Salah satu peneliti UNDIP, Ni Kadek Dita Cahyani, Ph.D. yang juga merupakan seorang dosen di departemen Biologi, Fakultas Sains dan Matematika Undip, berkesempatan menjadi pembicara dalam salah satu panel dengan tema “Knowing and Protecting Life on Earth Starts with Natural History and Science Innovation”. Panel ini merupakan satu dari total 80 diskusi panel pada Science Summit at UNGA 77 yang dilakukan mulai 13-30 September 2022 baik secara online maupun offline. Dilaksanakan secara online pada tanggal 27 September 2022, panel dipimpin oleh Dr. Michele Weber dan dimoderatori oleh Dr. Sea McKeon dari Bird Conservancy, yang menggarisbawahi bagaimana Natural History atau sejarah alam dapat dimanfaatkan untuk membantu pembangunan yang berkelanjutan. Panel juga mengundang empat pembicara lainnya, yaitu: Dr. Nalini M. Nadkarni, Professor, University of Utah, Dr. Ursula Valdez, Faculty, University of Washington Bothell, Darren Naish, Zoologist dan Freelance Author dan Dr. Tom Fleischner, Senior Advisor & Director Emeritus, Natural History Institute.

Dr. Dita Cahyani menyampaikan makalahnya tentang pentingnya konservasi keanekaragaman hayati untuk mendukung pembangunan berkelanjutan, terutama bagi negara dengan biodiversitas tinggi, seperti Indonesia. Kekayaan alam menjadi dasar keberlangsungan hidup masyarakat suatau negara dan juga keberlangsungan ekosistem itu sendiri. Contohnya dalah sumber daya laut yang akan mendukung kegiatan perikanan dan sumber obat-obatan, hingga sumber daya lain seperti hutan mangriove yang berperan penting sebagai sabuk pantai (green belt) untuk menanggulangi abarasi dan dampak tsunami. Dia juga menyampaikan bahwa studi tentang keanekaragaman hayati menyediakan data dasar tentang status biodiversitas, dinamikanya, termasuk ancaman yang tengah dihadapi oleh biodiversitas itu sendiri. Dia juga berpendapat bahwa sains, teknologi dan inovasi menjadi cara untuk mencari jalan keluar terhadap masalah-masalah di lingkungan kita saat ini.

Empat pembicara lainnya juga membahas natural history dari berbagai bidang, seperti paleontologi, konservasi, kehutanan, dan pendidikan serta mengaitkan pentinya hal tersebut dalam pembangunan berkelanjutan. Dr. Ursula Valdez dan Dr. Nalini Nadkarni menenkankan pentingnya untuk terus memperkenalkan dan mengajarkan natural history kepada masyarakat. Hal ini akan semakin meningkatkan apresiasi dan kesadaran kita tentang pentingnya lingkungan bagi masa depan umat manusia. Dr. Daren Naish memaparkan bagaimana hewan prasejarah tetap bis amenjadi “ambassadors for science”. Dia berpendapat bahwa pengetahuan kita tentang masa lampau sangat penting dimiliki sebagai informasi untuk saat ini dan masa depan. Dr. Tom Fleischner menyatakan bahwa sejarah alam menumbuhkan kesadaran, pengetahuan, dan kepedulian masyarakat terhadap pembangunan berkelanjutan serta dapat berkontribusi secara langsung. Panel juga menghimbau agar supaya diskusi tentang sains menjadi salah satu agenda tetap dalam United Nations General Assembly mendatang.

Diskusi ditutup dengan pernyataan seberapa penting natural history bagi pembangunan berkelanjutan. Dr. Seabird McKeon selaku moderator nenyatakan bahwa natural history adalah induk dari ilmu pengetahuan. Natural history adalah keseluruhan hasil pengamatan umat manusia tentang dunia dan alam di sekitar kita. Dia menyatakan bahwa, “From this discipline we will draw our most powerful tools in seeking a sustainable future”. Sains dan teknologi tidak hanya berhubungan dengan satu atau dua Sustainable Development Goals (SDGs), namun meliputi enam goals dalam SDGs, antara lain SDG 2 (Zero hunger), SDG 4 (Quality education), SDG 6 (Clean water and Sanitation), SDGs 14 (Life Below Water), SDGs 15, dan SDG 17 (Partnership for the goals). Salah satu luaran dari Science Summit at UNGA77 adalah partnership dengan UNESCO Future Summit dimana The Science Summit at UNGA78 akan diselenggarakan pada 12-29 September 2023.