
Semarang (11/08/2022) – Mahasiswa Universitas Diponegoro laksanakan sosialisasi dan praktek pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah di Kelurahan Purwosari dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Kegiatan yang diadakan pada hari Minggu (24/07/2022) tersebut dilakukan dalam upaya mewujudkan SDG’s ke-3 yaitu kehidupan sehat dan sejahtera dan SDG’s ke 12 konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.
Minyak jelantah merupakan minyak bekas menggoreng yang telah digunakan lebih dari 4 – 5 kali. Minyak jelantah ini bukan merupakan limbah bahan berbahaya dan beracun (non B3), namun apabila dibuang sembarangan ke lingkungan maka akan memberikan dampak negatif bagi lingkungan. Begitu pula bagi tubuh, minyak jelantah mengandung zat karsinogenik yang apabila dikonsumsi terus menerus dapat menyebabkan lemak tubuh tidak normal, kanker, dan lain-lain.
Minyak jelantah yang dibuang melalui saluran perpipaan, dalam keadaan suhu dingin dapat menyebabkan penyumbatan saluran. Salah satu solusinya yaitu dengan memasang grease trap yang berfungsi untuk menyaring minyak/lemak serta sampah padat supaya tidak mengalir masuk ke saluran pembuangan, sehingga mencegah terjadinya penyumbatan pipa saluran dan pencemaran lingkungan. Namun, untuk memasang grease trape membutuhkan biaya yang cukup mahal dan pemasangannya yang cukup sulit.
“Ooh iya, kami terkadang bingung untuk minyak jelantah harus diapakan, terkadang dibuang dan juga ada yang disimpan. Selain itu, karena harga minyak yang naik, kami para ibu rumah tangga jadi membeli minyak curah, untuk minyak curah harganya memang lebih murah daripada minyak biasa, tetapi apakah khasiatnya sama ya mas dengan minyak pada umumnya? Dan pemakaiannya kira kira harus berapa kali ya?,” tanya Bu Rini, selaku Ketua RT 08 RW 06 Kelurahan Purwosari, (Senin, 18/07/2022).
Tentu saja kualitas minyak curah lebih rendah daripada minyak biasa pada umumnya, dengan pemakaiannya yang diharuskan 1-2 kali, setelah itu minyak curah harus dibuang. Lalu untuk minyak jelantah lebih baik untuk tidak dibuang sembarangan ke tanah atau ke saluran air buangan karena tentu saja dapat menyebabkan clogging pada saluran dan pencemarna tanah.
Berdasarkan dari permasalahan tersebut, Anas Fikri Muliawan selaku Mahasiswa KKN Undip melakukan kegiatan Sosialisasi dan pelatihan pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah. Dalam kegiatan tersebut, Mahasiswa Anas memberikan sosialisasi tentang bahaya minyak jelantah jika tercemar di lingkungan, lalu mengenalkan bahan dan alat untuk membuat lilin aromaterapi seperti stearin bubuk, minyak jelantah tentu saja, sumbu lilin, cawan, essential oil, crayon (opsional) dan terakhir adalah praktek pembuatan lilin aromaterapi.

Kegiatan semakin menarik saat Mahasiswa Anas membagikan lilin aromaterapi yang telah dibuatnya, karena membuat ibu-ibu tertarik ingin memanfaatkan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi.
“Mas untuk membeli bahan bahan ini dimana ya? Lalu apakah kita bisa menjual lagi lilin aromaterapi ini ke orang lain” ujar Bu ida, selaku salah satu warga yang hadir dalam pelatihan tersebut, minggu (24/07/2022).
Untuk membeli bahan bahan pembuatan lilin aromaterapi, dapat dibeli/ditemukan di toko kimia terdekat, lalu lilin aromaterapi ini tentu saja dapat diperjualbelikan langsung ke orang lain, dengan 1lilin aromaterapi dapat dihargai Rp10.000,00 – Rp15.000,00. Selain itu, Setelah stearin bubuk dicampur dan diaduk ke minyak jelantah, masukkan stearin dan ditunggu sampai 6 jam sampai lilin mengeras.
Di akhir kegiatan, Mahasiswa Anas memberikan produk lilin aromaterapi dan poster kepada ibu-ibu sebagai bahan panduan ketika akan membat lilin aromaterapi. Dengan berlangsungnya edukasi dan pelatihan pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah, diharapkan dapat mengurangi permasalahan lingkungan di Kelurahan Purwosari dan meningkatkan potensi pemanfaatan limbah yang dihasilkan sehingga limbah dapat membawa berkah.

Penulis : Anas Fikri Muliawan – Teknik Lingkungan / Fakultas Teknik Universitas Diponegoro
Dosen Pembimbing Lapangan: Zaki Ainul Fadli, S.S., M.Hum.