
UNDIP, Semarang (01 April 2021) – Budaya yang ada di Indonesia memiliki keberanekaragaman jenisnya, dan biasanya diwariskan dari leluhur ke generasi berikutnya, salah satu daerah yang mewariskan kebudayaannya dan masih ada hingga saat ini yaitu Kampung Jurang Blimbing yang berlokasi di Kecamatan Tembalang, Kota Semarang atau yang biasa dikenal sebagai Kampung Tematik Seni dan Budaya Jurang Blimbing. Ada beberapa kesenian tradisional Jawa yang dilestarikan dan telah membentuk kelompok mitra seperti Karawitan Budhi Laras, Kuda Lumping Turangga Tunggak Semi, dan Ketoprak. Kegiatan – kegiatan ini dilaksanakan dengan pusat tempat pada panggung yang biasa disebut sebagai Balai RW.
Para penggiat kesenian, pemain pada kelompok mitra, bahkan generasi muda seperti pemuda karang taruna (IKADA) dan warga sekitar berperan aktif pada seluruh kegiatan kesenian yang ada pada kampung ini, mereka tergerak hatinya untuk membudayakan dan melestarikan budaya yang hampir punah.

Pada sekitar panggung atau Balai RW terdapat dinding-dinding belakang rumah warga yang awal mulainya masih polos dan kusam. Maka dibuatlah mural untuk menggambar di atas media dinding rumah atau pada media yang bersifat permanen lainnya. Mahasiswa KKN-T 2021 Tim 1 juga berperan untuk membuat mural yang bertemakan budaya disalah satu dinding rumah warga yang berada di bagian utara panggung.
Latar belakang pembuatan mural ini bertujuan untuk mempercantik dan memperindah dinding warga Kampung Jurang Blimbing yang sebelumnya masih polos dan kurang indah, maka dibuatlah mural yang berkaitan dengan budaya, serta dapat melestarikan budaya jawa yang ditampilkan dalam bentuk visual dari mural yang dibuat. Selain itu, diharapkan mampu untuk menambah daya tarik jika ada masyatakat umum ataupun wisatawan untuk mengunjungi serta dapat menjadikan spot foto dan sebagai icon dari Kampung Tematik Seni dan Budaya Jurang Blimbing.
Mural pada dinding warga ini memiliki luas 4,7×2,7 meter ini dibuat dengan filosofi yang menggambarkan bahwa Kampung Jurang Blimbing Seni dan Budaya. Dengan gambar dua orang penari yang terdiri dari seorang perempuan sebagai penari semarangan yang dipilih sebagai ikon tari dari daerah Semarang dan seorang laki – laki sebagai penari singo barong yang merupakan salah satu bagian babak tarian yang ada pada kuda lumping. Sedangkan pada gambar gunungan pada mural menggambarkan bentuk alam yang berupa dataran tinggi.
Dalam proses pembuatannya terdapat beberapa tantangan yaitu cuaca yang kurang mendukung seperti hujan karena menyebabkan dinding menjadi lembab, basah dan tidak dapat dimural serta waktu yang terbatas dikhawatirkan program ini tidak selesai tepat pada waktunya namun hal ini teratasi dan terselesaikan karena adanya ketersediaan SDM yang dapat dioptimalkan untuk pembuatan mural dinding (teman-teman KKN-T 2021 Tim 1) serta alat dan bahan yang dibutuhkan dalam proses pembuatan mudah untuk didapatkan.
Maka untuk melestarikan budaya banyak macam caranya, melalui niat dan tindakan nyata akan menjadikan sesuatu yang bermakna untuk membuat budaya daerah tetap maju, berkembang dan terus ada. Salam Budaya.
Penulis : Kamila Almaas Nabila
Dosen Pembimbing : Triyono S.H., M.Kn., DR.Ir. Suzana Ratih Sari, M.M., M.A., Dra. Ana Irhandayaningsih, M.Si