SDGs Center UNDIP menggelar kembali Talkshow SDGs #deanseries pada hari Jumat (19/03) bekerja sama dengan ProAlma Radio 977 FM. Tema bincang radio kali ini adalah Infrastruktur Tangguh (Goal 9) dan Kesehatan Berkualitas dan Kehidupan Sejahtera (Goal 3), dengan narasumber Prof. Ir. Agung Wibowo, Ph.D. (Dekan Fakultas Teknik) dan Dr. dr. Dwi Pudjonarko, M.Kes (Dekan Fakultas Kedokteran). Acara bincang radio  ini dipandu oleh Ara Agatha selama lebih kurang satu jam.

Prof Agung menerangkan lingkup Goal 5 terkait infrastruktur tangguh (resilient infrastructure). Infrastruktur tangguh berarti infrastruktur harus mampu menahan segala hantaman/gangguan (disturbance) baik yang berasal dari alam maupun non-alam seperti bencana kemanusiaan atau serangan pandemi. Ketangguhan infrastruktur juga harus bercirikan sebagai lean construction Lean construction berarti konstruksi yang mengedepankan efisiensi energy dan limbah buang.

Lebih lanjut Prof Agung menjelaskan empat hal yang menentukan ketahanan suatu negara yaitu pertumbuhan ekonomi, ketahanan pangan, keamanan nasional, dan distribusi logistic. Keempat hal ini perlu dukungan infrastruktur tangguh agar bisa berjalan dengan baik. Infrastruktur juga menjadi perhatian pemerintah pada beberapa tahun terakhir dengan belanja infrastruktur nasional yang mencapai 300-400 Triliun.  Jumlah yang besar untuk belanja infrastruktur ini harus didukung dengan system pembangunan dan sumber daya manusia yang juga tangguh dan berkualitas tinggi. System pembangunan konstruksi yang berlaku selama ini menggunakan project life cycle yang dimulai dari fase inisiasi, fase desain, fase konstruksi, fase operasional dan perawatan, fase demolition (pembongkaran), lalu kembali lagi ke fase inisiasi dan ke fase berikutnya. Fase inisiasi menjadi ranah stake holder atau project owner (yang berkehendak untuk membangun). Visi yang ditentukan oleh stake holder atau project owner sangat menentukan seberapa besar kebermanfaaatan infrastruktur yang akan dibangun, dengan mempertimbangkan banyak sisi seperti analisis resiko, analisis bencana, ekonomitas, fungsionalitas, daya tangguh, estetika dan lain sebagainya mengingat penggunaan infrastruktur selalu untuk jangka waktu yang lama. Selanjutnya, fase desain dilakukan oleh para arsitek, dan fase konstruksi, operasional dan perawatan menjadi tanggung jawab kontraktor, konsultan, pekerja lapangan dan penyedia material (material supplier).

Selanjutnya, Dekan FK, Dr. dr. Dwi Pudjonarko, M.Kes memaparkan goal SDG 3 tentang kesehatan berkualitas dan kesejahteraan yang menjadi prioritas dalam upaya peningkatan kualitas layanan kesehatan di Indonesia. Menurut Dr. Dwi Pudjonarko, ada lima masalah kesehatan yang harus menjadi prioritas penanganan, yaitu kesehatan ibu dan anak, promosi kesehatan reproduksi, pengendalian penyakit menular maupun tak menular, manajemen tenaga kesehatan, dan masalah farmasi dan alat kesehatan. Pada tahun 2020 ditambah masalah pandemic covid-19 yang mengakibatkan chaos luar biasa pada bidang kesehatan dan dirasakan oleh seluruh warga negara tidak hanya penderita covid-19. Maka terdapat enam masalah prioritas yang harus mendapat perhatian dari semua pihak agar bisa segera tertangani.

Masih menurut Dr. Dwi, langkah besar yang harus diambil adalah penguatan ketahanan kesehatan meliputi usaha promotive (promosi/kampanye kesehatan), preventive (antisipasi/penghindaran) dan recovery (pemulihan). Ketiga usaha ini amat diperlukan di masa pandemic seperti sekarang ini. Promosi kesehatan atau kampanye kesehatan memang tidak bisa berdampak cepat dan memakan waktu lama untuk melihat hasilnya, tapi tetap harus dilakukan terus menerus agar masyarakat sadar akan masalah-masalah kesehatan yang ada termasuk pandemic covid-19. Beruntungnya Indonesia karena warganya sudah terbiasa bergotong royong untuk menyelesaikan masalah bersama, seperti pandemic covid-19. Warga dengan suka rela begotong royong dan berswadaya menangani pandemic ini dalam penyediaan APD bagi para tenaga kesehatan yang sempat mengalami kekurangan persediaan APD, penyaluran masker dan hand sanitizer bagi seluruh rakyat Indonesia, serta penyaluran bantuan makanan bagi warga yang harus isolasi mandiri maupun yang kehilangan pekerjaan sebagai akibat serangan pandemic covid-19.

Kembali membahas tentang lean construction, Prof Agung menjelaskan bahwa lean construction itu mengadopsi ide lean manufacture yang bisa menjadikan proses produksi manufaktur lebih efisien energy dan mengurangi limbah yang dibuang. Hanya saja, pelaksanaan lean construction tidak bisa secepat lean manufacture karena dua bagian inti proses konstruksi yaitu bagian desain dan konstruksi tidak di bawah satu organisasi. Pada prakteknya, desain dan konstruksi, termasuk konsultan, berada pada bagian yang terpisah, sehingga sering muncul perselisihan (dispute) antar bagian karena kurang terintegrasi antara desain-konstruksi-dan konsultan. Ketika bagian desain, konstruksi dan konsultan bisa berada dalam satu departemen, maka koordinasi bisa langsung dilakukan sehingga mengefisienkan waktu dan energi yang digunakan. Contoh lain aplikasi lean construction adalah pembuatan material bangunan secara fabrikasi sehingga bisa dihasilkan precast siap pakai untuk konstruksi yang lebih terjamin mutu dan ukurannya dan mampu mengurangi waste atau limbah yang disisakan. Precast ini akan mengefisienkan waktu pengerjaan konstruksi. Terlaksananya lean construction juga bergantung visi dan inisiasi dari project owner yang akan mengarahkan seperti apa lean construction ingin diwujudkan, yang akan diterjemahkan menjadi desain dan konstruksi di bawah satu departemen. Penyatuan bagian desain-konstruksi dalam satu departemen ini juga mulai diimplementasikan pada integrasi dan kolaborasi jurusan Teknik Arsitek dan Tekik Sipil UNDIP saat penyusunan tugas akhir. Maka mahasiswa Teknik Arsitektur dan Teknik Sipil bisa mulai mendapat pengalaman dan pembelajaran mengenai lean construction sejak bangku kuliah. Dengan mulai diintegrasikannya ilmu desain yang dipelajari mahasiswa Teknik Arsitektur dan ilmu konstruksi yang dipelajari mahasiswa Teknik Sipil, para mahasiswa ini bisa memahami industri konstruksi tempat mereka bekerja nanti.

Menjawab pertanyaan pemandu bincang radio tentang langkah pemerintah terkait penyediaan tenaga kesehatan yang bisa melayani seluruh masyarakat Indonesia secara lebih efektif dan efisien, Dr. Dwi menjelaskan Pemerintah terus meningkatkan kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan yang siap melayani seluruh Indonesia mulai dari penyiapan institusi pendidikan dan pelatihan, perekrutan, pengembangan kemampuan SDM dan peningkatan daya serap dan penghargaan tenaga SDM kesehatan. Penyiapan institusi pendidikan dan pelatihan dilakukan dengan memperbanyak pembukaan kampus-kampus kesehatan baik yang mencetak perawat, bidan, analis kesehatan, ahli gizi maupun dokter yang berkualitas tinggi di hampir seluruh wilayah Indonesia. Khusus untuk tenaga dokter spesialis, Dr Dwi juga menjelaskan bahwa pemerataan di seluruh pelosok Indonesia masih menjadi masalah tersendiri. Dokter-dokter spesialis masih terkonsentrasi di kota-kota besar di Jawa. Untuk mengatasinya, Pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk mengucurkan beasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) dan mengharuskan para calon dokter spesialis itu untuk berpraktek di seluruh wilayah Indonesia sebelum menjadi dokter spesialis mandiri.

Dr Dwi Pudjonarko juga memaparkan inovasi dan kontribusi yang sudah dilakukan Fakultas Kedokteran (FK) UNDIP untuk peningkatan kualitas pendidikan bidang kesehatan. Inovasi dan kontribusi yang dilakukan antara lain dengan dibentuknya interprofesional education yang berarti pengintegrasian atau pengolaborasian antar bidang profesi kesehatan saat perkuliahan. Interprofesional education mengolaborasikan profesi dokter-perawat-farmasi-dan ahli gizi sejak bangku kuliah. Cara ini dilakukan agar terjadi proses perawatan dan penyembuhan yang komprehensif atas kasus pasien yang terjadi, dan menjadikan mahasiswa lulusan FK bertanggung jawab pada tugas masing-masing profesi dibarengi dengan kemampuan bekerja sama yang baik antar profesi kesehatan tersebut. Selain itu, kontribusi FK UNDIP juga diwujudkan dalam bidang penelitian dengan adanya pusat-pusat penelitian bidang kesehatan di UNDIP. Untuk penanganan kasus covid-19, UNDIP juga menerjunkan  mahasiswa jurusan kesehatan menjadi relawan yang ikut melayani pasien covid-19. Hal ini dilakukan karena kasus covid-19 yang secara cepat meningkat jumlahnya dari hari ke hari mengakibatkan daya tampung RS dan daya layan nakes yang ada menjadi timpang dibanding jumlah pasien covid-19 yang ditangani. Hal ini menunjukkan bahwa layanan kesehatan tidak bisa berdiri sendiri tanpa didukung oleh perguruan tinggi yang bisa mencetak tenaga kesehatan berkualitas.

Disinggung tentang inisiatif dan kerja sama yang telah dilakukan UNDIP untuk pemujudan goal 9 atau Infrastruktur Tangguh, Prof Agung menyebutkan bahwa FT UNDIP telah menjalin banyak kerja sama dengan berbagai pihak untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan dan lulusan FT, diantaranya adalah kerja sama yang sedang berlangsung dengan Asian Development Bank (ADB) dalam pelaksanaan SDGs terkait pengelolaan lingkungan. Kerja sama yang dilakukan meliputi penyelenggaraan kuliah umum, webinar, penelitian dan pengabdian masyarakat. Melalui kerja sama ini, bahkan tidak hanya tentang UNDIP, Kota Semarang juga bisa masuk program “100 Resilient City” yang memberi perhatian pada kondisi sungai, tata kota, dan masalah rob yang ada di Kota Semarang. Selain dengan ADB, UNDIP juga ditunjuk oleh KemenPUPR untuk menyelenggarakan program pendidikan Magister Super Spesialis untuk konsentrasi Instrumentasi Keamanan Bendungan dan Insrumentasi Hidro Meteorologi Bendungan bagi SDM KemenPUPR agar bisa mengelola pembangunan infrastruktur di Indonesia dengan baik. Program perkuliahan di FT UNDIP juga telah dirancang agar bisa memberikan teori, praktek lapangan tentang konstruksi, dan pengalaman magang di industri kontruksi untuk mendekatkan mahasiswa dengan realita industri.

Sebagai penutup bincang radio ini, Dr. Dwi menyebutkan bahwa herd immunity yang dipilih oleh Indonesia diwujudkan dengan pelaksanaan vaksinasi, selain tetap menjalankan protokol kesehatan secara disiplin. Pandemi ini merupakan ujian bagi kita semua, dan pemerintah sudah mengusahakan yang terbaik untuk negara ini, maka mari dukung sekuat tenaga atas apa yang diprogramkan pemerintah untuk keluar dari pandemi. Prof Agung menutup bincang dengan menyatakan bahwa kemajuan suatu bangsa memerlukan infrastruktur tangguh. Terciptanya infrastruktur tangguh bergantung pada SDM tangguh yang diciptakan dari kampus-kampus tangguh seperti Fakultas Teknik UNDIP yang sudah menyiapkan segala sesuatunya termasuk jalinan kerja sama dengan banyak pihak terkait yang mendukung peningkatan kualitas akademik.