Kelurahan Ngempon di Kecamatan Bergas adalah salah satu wujud permukiman yang di kepung oleh industri. Sungai Klampok membelah kawasan tersebut, dimana puluhan industri besar juga memanfaatkannya sebagai outlet pembuangan limbah. Industri-industri yang ada disana telah mengubah hidup masyarakat. Sebagian masyarakat menjadi buruh dan berhasil meningkatkan standar kehidupan. Namun tidak semua usia produktif terserap oleh lapangan kerja yang tercipta. Bahkan pencemaran sungai akibat pembuangan limbah sempat menyebabkan  kerusakan sawah, lahan dan ekosistem perairan yang ditandai dengan hilangnya ikan yang ada di sungai. Menyadari kerugian ini, perjuangan masyarakat dimulai sejak satu decade yang silam untuk mendapatkan hak atas lingkunganya kembali dengan mendirikan Organisasi Pelestari Sungai Indonesia (OPSI). OPSI juga telah mengembangkan monitoring berbasis masyarakat untuk memudahkan pemantauan dan identifikasi pelaku atau sumber pencemaran.

Perjuangan masyarakat membuahkan hasil dengan beridirinya Forum CSR yang difasilitasi oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Semarang. Industri-industri menjadi anggota forum yang dikoordinasikan oleh perwakilan dari OPSI. Namun demikian, belum ada model pemberdayaan masyarakat yang komprehensif, yang mampu membawa perubahan dan memberikan dampak signifikan bagi masyarakat. Program dan kegiatan yang dihasilkan melalui Forum CSR sangat incremental, hanya berorientasi jangka pendek dan tidak sistematis berkelanjutan. Misalnya hanya dengan memberikan bantuan anggaran bersih sungai, bantuan bibit, atau batuan kegiatan warga. Seiring waktu lahan-lahan di sekitar sungai menjadai terbengkali dan tidak produktif.

Sebagai bagian dari agenda dalam implementasi Sustainable Development Goals (SDGs), Universitas Diponegoro hadir dalam mendorong upaya transformatif, dengan memberikan asistensi jangka panjang, sejak 2019, menuju transisi ekonomi masyarakat yang lebih hijau.  Dalam menjalankan agenda ini Universitas Diponegoro telah berkerjasama dengan Program CSR ASTRA (https://www.astra.co.id/CSR) dan Pemerintah Kabupaten Semarang. Dengan pendekatan partisipatif, Dr. Rukuh Setiadi bersama dengan tim multi-disipliner membantu penyusunan masterplan pengembangan kawasan dan rencana bisnis masyarakat. Kisah perjuangan masyarakat dalam mempertahankan sungai dan didukung oleh potensi sumber mata air panas, candi pra sejarah, dan air terjun oleh Universitas Diponegoro dibingkai dalam konsep pengembangan eduwisata lingkungan dan budaya.

Program partisipatif ini tidak hanya terlah berhasil mengubah kawasan bantaran sungai terbengkalai menjadi memiliki nilai ekonomi dengan restorasi, tetapi juga berhasil membawa semangat masyarakat untuk bangkit dan memiliki masa depan yang lebih baik. 21 pemilik lahan membiarkan asset mereka digunakan untuk pengembangan kawasan eduwisata tanpa pembelian, sewa maupun pengalihan hak atas lahan demi kemajuan bersama.

Satu tahun sejak program ini diluncurkan, mereka telah berhasil menjadi host kunjungan eduwisata. Beberapa group turis sudah berada dalam ‘waiting list’ untuk mengunjungi eduwisata Ngempon. Sehari-hari kawasan ini telah dikunjungi ratusan masyarakat umum yang memberikan nilai tambah bagi perekonomian masyarakat.

Target-target dalam SDGs yang berhasil diinternalisasi dari program ini diantaranya adalah perlindungan ekosistem sungai (Goal 6.6) dan lahan (Goal 15) yang sekaligus juga menjadi pencapaian pada SDG 8 (Sustainable Livelihoods), khususnya mempromosikan wisata yang berkelanjutan (Goal 8.6). Upaya ini juga menjadi pendorong bagi industri-industri sekitar untuk menjadi lebih bertanggung jawab dalam operasinya yang menjadi target pada Goal 12 SDG.