Sokowangi, Taman, Pemalang (16/07/19). Pada hari Selasa telah dilakukan program kerja “Gerakan ATAP (Aksi Tanpa Plastik dan Styrofoam)”, program kerja tersebut merupakan pemberian edukasi terkait gaya hidup sehari-hari tanpa menggunakan plastik maupun styrofoam. Yang mana program ini dilakukan oleh Dwi Rini Septiani dari Tim II KKN 2019, kegiatan ini ditujukan untuk masyarakat umum. Kegiatan ini dilakukan agar masyarakat meminimalisir penggunaan plastik dan styrofoam karena produk tersebut susah untuk terurau di alam.

Styrofoam adalah plastik yang terbuat dari busa atau polystrene ekstruksi sel tertutup (XPS) atau biasa disebut “Blue Board”. Styrofoam terbuat dari monomer stirena melalui polimerisasi suspensi pada tekanan dan suhu tertentu, selanjutnya dilakukan pemanasan untuk pelunakkan resin dan menguapkan sisa blowing agent.
Lembaga kesehatan dunia (WHO), Internatonal Agency for Research on Cancer dan EPA(Enfiromental Protection Agency) telah mengkategorikan styrofoam sebagai bahan karsinogen. Pada plastik berbahan polysterene juga mengandung formalin(zat pengawet mayat). Bahan dasar yang digunakan adalah 90-95% polistirena dan 5-10% gas seperti butana dan pentana.

Polistirena umumnya berwarna putih, bersifat ringan, kaku, rapuh, tahan air, dan tembus cahaya. Pada masyarakat awam lebih dikenal dengan sebutan gabus atau busa, dan biasanya digunakan sebagai pengganjal alat-alat elektronik seperti kulkas, televisi, mesin cuci, dan lainnya maupun pembungkus bahan pangan. Hal ini didasarkan pada keunggulannya yang praktis, murah, dan tahan lama sehingga menjadi daya tarik pemakaian styrofoam.

Namun tanpa disadari dibalik kelebihan dari penggunaan styrofoam juga terdapat dampak negatif bagi kesehatan. Hal ini karena styrofoasm mengandung benzena dan stirena yang dapat memicu pertumbuhan sel kanker. Badan kesehatan dunia, World Health Organization menyatakan”benzena adalah zat kimia yang bersifat karsinogenik atau menyebabkan tumbuhnya sel kanker di dalam tubuh”. Sedangkan fakta untuk stirena tidak jauh berbeda dengan benzena karena zat ini juga menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan.

Styrofoam berbahaya bagi kesehatan apabila digunakan secara terus-menerus dan dalam jangka panjang. Bahaya styrofoam berasal dari kontaminasi stirena ke dalam makanan terutama makanan panas dan berkuah. Perpindahan zat kimia ini didasari beberapa faktor, diantaranya suhu makanan, lama kontak dengan makanan, dan tingginya lemak makanan.

Apabila styrofoam digunakan sebagai wadah makanan dalam keaadaan panas maka perpindahan stirena ke dalam makanan akan semakin mudah dan sangat cepat. Oleh karena itu hindari penggunaan styrofoam untuk makan dalam keadaan panas. Lamannya kontak makanan dengan styrofoam juga berbahaya bagi kesehatan karena zat stirena yang melekat pada makanan akan memicu penyakit berbahaya.