Suwawal Timur (12/7)
Persoalan perubahan iklim sudah menjadi fenomena lingkungan yang nyata dan diakui sebagai salah satu ancaman terbesar bagi kehidupan manusia. Program Kampung Iklim (Proklim) adalah program berlingkup nasional yang dikembangkan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk mendorong partisipasi aktif masyarakat dan seluruh pihak dalam melaksanakan aksi lokal untuk meningkatkan ketahanan terhadap dampak perubahan iklim dan memanfaatkan sampah-sampah organik yang ada di desa Suwawal Timur untuk mencegah dan mengurangi terjadinya pembentukan polutan.
Kampung Organik Green Soden yang berada di RT 06 dan RT 05/RW 02 desa Suwawal Timur, Kecamatan Pakis Aji, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Program kampung iklim yang sudah dirintis sejak tahun 2014 ini setiap hari jumat rutin dilaksanakan dengan pembuatan pupuk organik yang diisi oleh Bapak Rukanto. Green Soden memiliki empat Green House yang berada di dekat rumah Pak Bowo selaku ketua Green 13. Green 13 merupakan sistem penanaman khusus untuk tanaman khusus bunga yang juga merupakan bagian dari progam Green Soden.
Kegiatan dilakukan mulai jam 08.00 WIB di samping basecamp milik Green Soden diikuti oleh kurang lebih 20 orang yaitu anggota Green Soden sendiri, masyarakat RT setempat dan mahasiswa Tim II KKN Undip. Program Kampung Iklim (Proklim) Green Soden memiliki empat Green House yang berada di dekat rumah Pak Bowo selaku ketua Green 13 dimana Green 13 merupakan sistem penanaman khusus untuk tanaman bunga. “Kegiatan ini menarik karena memberikan informasi kepada mahasiswa Undip yang sedang menjalankan Kuliah Kerja Nyata agar bisa memanfaatkan lingkungan yang ada di sekitar kita dan sebagai usaha menghindari bahan-bahan kimia dengan cara penyuluhan dan praktik cara pembuatan pupuk organik yang terbuat dari kotoran ternak”, pesan Pak Rokanto.
Tahap dalam memambuatnya cukup mudah, yaitu dengan cara mencampurkan kotoran hewan sebanyak dua karung yang sudah diratakan menggunakan pacul. Kemudian ditaburi dedhak atau bekathul, setelah itu diberi kapur dolomit di bagian atasnya dan kemudian ditambah dengan arang sekam. Selanjutnya, disiram dengan air yang kemudian ditaburi oleh empedu sisa hewan ternak, seperti kambing atau sapi. Kemudian bagian akhirnya ditutup dengan terpal selama satu minggu, dan hasil campuran kotoran hewan tersebut yang sudah ditutup dibuka kembali untuk diaduk. Jika masih ada campuran kotoran hewan yang kering maka disiram air agar bakteri dapat menyebar rata ke seluruh adodan pupuk dan nantinya ditutup kembali. Setelah satu minggu terpal dibuka. Tanda dari jadinya pupuk kompos adalah sudah tidak tercium lagi kotoran hewan dan kepadatannya berkurang.