(12/07) Salah satu masalah utama dalam bidang pendidikan dan kebudayaan adalah masalah identitas kebangsaan. Dengan derasnya arus globalisasi dikhawatirkan budaya bangsa, khususnya budaya lokal akan mulai terkikis. Budaya asing kini kian mewabah dan mulai mengikis eksistensi budaya lokal yang sarat makna.
Agar eksistensi budaya lokal tetap kukuh, maka diperlukan pemertahanan budaya lokal. Fenomena anak usia sekolah yang senang dengan budaya asing menjadikan kewaspadaan untuk mengangkat dan melestarikan budaya lokal agar menjadi bagian integratif dalam pemelajaran sastra di sekolah. Budaya lokal merupakan budaya yang dimiliki oleh suatu wilayah dan mencerminkan keadan sosial di wilayahnya. Beberapa hal yang termasuk budaya lokal diantaranya adalah cerita rakyat, lagu daerah, ritual kedaerahan, adat istiadat daerah, dan segala sesuatu yang bersifat kedaerahan. Dikutip dari badanbahasa.kemdikbud.go.id
Maka dari itu, penulisan sejarah merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Diponegoro untuk Desa Pelutan, Kabupaten Pemalang. Hal ini dilakukan dalam upaya penanaman nilai-nilai yang terkandung dalam budaya lokal, seperti nilai religius, nilai moral, dan khususnya nilai kebangsaan kepada peserta didik. Pada akhirnya, penanaman nilai-nilai budaya lokal dalam pemelajaran sastra diharapkan akan mengimbangi pengaruh budaya asing yang semakin mewabah di masyarakat kita.
Kegiatan tersebut dikelola oleh Jazimatul Husna, S.IP., M.IP, upaya penulisan diawali dengan mengenali sejarah lebih dalam dari narasumber warga-warga yang ada di Desa Pelutan, Kabupaten Pemalang. Beberapa narasumber kemudian akan dibenarkan oleh narasumber lainnya sehingga ada beberapa data yang tidak akurat.

Namun upaya penulisan sejarah tidak terhambat, Bu Jazimatul terus melakukan upaya menggali sejarah lebih dalam yang akhirnya terciptanya bentuk lisan sejarah Desa Pelutan. Harapannya adalah dengan adanya sejarah dalam bentuk lisan, warga dapat mengetahui serta menanamkan perilaku dari pendahulu yang membuat Desa Pelutan terus berdiri.