
Semarang (Mei, 19). Telah dilakukan program kerja pengabdian masyarakat “Penguatan Nilai-Nilai Multikulturalisme Melalui Video Partisipatori”, program kerja pengabdian tersebut merupakan kegiatan dengan melibatkan berbagai kalangan masyarakat untuk membuat video bertema multikulturalisme dan melihat multikulturalisme sesuai dengan pemahaman masyarakat. Yang mana program ini dilakukan oleh Af’idatul Lathifah dan Nurdien H. Kistanto dari Tim Pengabdian Masyarkat 2019, kegiatan ini ditujukan untuk masyarakat umum. Kegiatan ini dilakukan agar dihasilkan berbagai video partisipatori dengan pesan multikulturalisme yang lebih dekat dengan masyarakat.
Sebagian besar peserta belum mengerti tentang multikulturalisme. Untuk itu pelaksana dan juga pendamping harus terlebih dahulu menjelaskan tentang konsep multikulturalisme tersebut. Dengan sedikit penjelasan dan juga diskusi, para peserta akhirnya memahami apa makna multikulturalisme. Peserta dilibatkanpula dalam diskusi untuk mencari bentuk-bentuk multikultiralisme dalam kehidupan sehari-hari. Diskusi ini dibagi menjadi 4 (empat) kelompok. Setiap kelompok merumuskan dan memberikan contoh-contoh multikulturalisme. Hasilnya ada 4 (empat) bentuk multikulturalisme yang ada di kehidupan sehari-hari mereka :
1.Perbedaan pandangan keagamaan, kerukunan dengan tetangga atau anggota keluarga yang berbeda
2.Percampuran kebudayaan antara budaya Indonesia dengan budaya lain yang datang ke Indonesia, seperti Cina dan Arab yang bentuknya banyak terdapat di berbagai wilayah di Kota Semarang
3.Perbedaan jenis-jenis makanan, yang tercampur dengan kebudayaan lain di luar Kota Semarang, seperti lumpia yang merupakan makanan peranakan atau minuman-minuman semacam wedang tahu dan wedang ronde.
4.Keragaman bentuk bangunan yang ada di Kota Semarang seperti Lawang Sewu, Gereja Blenduk, dan juga Kuil Sam Poo Kong.
Para peserta selanjutnya dibantu oleh mahasiswa, melakukan pengambilan gambar sesuai dengan konspe yang mereka pahami. Hanya saja, pada proses ini memang tidak bisa dilakukan dengan sekali waktu saja, inilah yang terkadang menyulitkan pelaksanaan kegiatan ini karena peserta tidak selalu memiliki waktu luang. Akan tetapi pada akhirnya pengambilan gambar tetap bisa terlaksana dengan maksimal. Proses editing masih dilakukan oleh pelaksana kegiatan dibantu oleh mahasiswa. Hasil utamanya adalah empat video tentang multikulturalisme yang bisa digunakan atau diputar di berbagai kesempatan guna mengkampanyekan multikulturalisme