Museum sebagai tempat untuk menyimpan dan mempublikasikan hasil budaya manusia (bisa berupa benda, tulisan, gambar) harus terus menerus merawat dan memperbarui koleksinya mengikuti perkembangan hasil budaya masyarakat dari waktu ke waktu. Museum Ranggawarsita bermaksud memperbarui koleksi alat tangkap nelayan agar bisa mengikuti perkembangan metode tangkap dan alat yang digunakan nelayan Indonesia. Museum Ranggawarsita menggandeng Tim Peneliti dari Departemen Sejarah FIB Undip untuk melakukan penelitian lapangan tentang alat tangkap yang digunakan nelayan saat ini.
Penelitian yang dilakukan atas kerja sama kedua pihak ini dilakukan di dua tempat untuk melihat apakah alat-alat tangkap nelayan tradisional itu masih digunakan hingga sekarang, atau adakah temuan alat baru yang digunakan pada saat ini. Penelitian dilakukan di Desa Kedung Malang, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara dan Desa Wonokerto Kulon, Kecamatan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan. Tim Peneliti melakukan penelitian lapangan dalam jangka waktu dua bulan Maret-April 2018, setelah penelitian lapangan, dilanjutkan dengan analisis data yang terkumpul dan penyusunan laporan hingga tersusunlah buku “Peralatan Tradisional Nelayan (Koleksi Museum Jawa Tengah Ranggawarsita) pada bulan Maret 2019. Tim peneliti dari Departemen Sejarah diwakili oleh Dr. Siti Maziyah, M.Hum dan Dra. Sri Indrahti, M.Hum, sedangkan tim dari Museum Ranggawarsita diwakili oleh Laela Nurhayati, S.S., M.Hum dan Rukoyah, S.E. Penelitian yang dilakukan dengan studi pustaka dan penelitian lapangan melalui metode observasi langsung, wawancara dan focused group discussion.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ternyata dua daerah penelitian (Desa Kedung Malang-Jepara dan Desa Wonokerto Kulon-Pekalongan) itu memiliki karakteristik yang berbeda. Nelayan di Desa Kedung Malang Jepara merupakan nelayan kecil, yang biasanya melaut hanya setengah hari secara seorang diri atau berkelompok. Selain menangkap ikan di laut, para nelayan itu juga menangkap ikan di sekitar sungai dan tambak menggunakan alat-alat tradisional seperti impes, bubu, dan anco. Sedangkan nelayan di Desa Wonokerto Kulon sebagian besar merupakan Anak Buah Kapal (ABK) yang sering berlayar cukup jauh hingga ke Pulau Natuna. ABK dari desa Wonokerto cukup banyak dengan cara ikut kapal milik juragan-juragan besar. Alat penangkap ikan yang digunakan lebih modern. Namun, alat penangkap ikan sederhana juga masih digunakan oleh mereka yang melakukan pelayaran 3-5 hari.
Sebelum dilakukan penelitian, koleksi alat tangkap nelayan yang dimiliki Museum Ranggawarsita di ruang pamer alat tangkap yang digunakan nelayan ada beberapa jenis, yaitu ajug, bagan, jala, bubu, kepis, seser, impes dan perahu serta dayung. Agar dapat mengikuti perkembangan alat tangkap nelayan tradisional, penelitian ini juga mengidentifikasi alat-alat tangkap tradisional apa saja yang ada di kedua desa. Alat tangkap tradisonal yang digunakan nelayan Kedung Malang meliputi: Seser, Bubu, Anco, Kepis, Ajug, Bagan, Jala, Perahu, Dogol, Arad, Jaring, Impes, dan Waring. Sedangkan alat tangkap tradisional yang digunakan nelayan Wonokerto Kulon meliputi: Gemplo, Cantrang, Arad, Arad Apolo, Bondhet, Anco, Seser, Wadhong, dan Impes.


Buku hasil penelitian Peralatan Tradisional Nelayan (Koleksi Museum Jawa Tengah Ranggawarsita)

Wawancara dengan informan Ketua Kelompok Usaha Bersama Perahu Layar dan Nelayan Mandiri Pekalongan, Pak Nurul Musyafa’i dan Khafidhoh di tepi sungai tempat perbengkelan jaring nelayan.

Arad salah satu jenis jaring nelayan yang populer di Desa Kedung Malang
sumber tulisan dan gambar: buku laporan penelitian “Peralatan Traditional Nelayan”, dokumentasi peneliti