
Banjardawa, Taman, Pemalang (12/01/19). Pada hari Sabtu telah dilakukan program kerja “Pelatihan Pengolahan Limbah Cair Tempe menjadi Nata de Soya”, program kerja tersebut merupakan pelatihan bagaimana cara mengubah limbah produksi tempe menjadi Nata de Soya. Yang mana program ini dilakukan oleh Sultan Arunizal dari Tim I KKN 2019, kegiatan ini ditujukan untuk masyarakat umum. Kegiatan ini dilakukan agar limbah produksi tempe berkurang dan meningkatkan varietas bahan pangan pokok masyarakat ataupun dapat dijual hasil olahannya sebagai pendukung ekonomi keluarga.
Kedelai merupakan salah satu komoditas pangan di Indonesia, produk olahan dari kedelai yang banyak diminati adalah salah satunya tempe. Tingginya konsumsi tempe menjadikan olahan kedelai beragam, dalam skala industry olahan kedelai dimulai skala yang kecil hingga menengah.
Dalam industri tempe menghasilkan limbah cari dan limbah padat. Menurut winarno (1984) dari 1000 gram atau 1 kg kedelai limbah yang dihasilkan limbah sebesar 21,9 % yang terdiri dari 8 % kulit, 12,2 % larut dalam proses perebusan dan 1,7 % hilang pada proses inkubasi.
Produsen tempe sering membuang limbah cair ke aliran sungai, limbah cair dari olahan tempe termasuk dalam limbah yang biodegradable yaitu merupakan limbah yang dapat dihancurkan oleh mikroorganisme.
Senyawa organik yang terkandung didalamnya akan dihancurkan oleh bakteri meskipun prosesnya lambat dan sering dibarengi dengan keluarnya bau busuk. Dampak dari pembuangan limbah cair ini adalah terganggunya biota di sepanjang aliran sungai.