
Jepara, Jumat (25/01/2019), Mitta Ety Haryanti, mahasiswa jurusan Bahasa dan Kebudayaan Jepang, FIB, Undip mengenalkan budaya tata cara menanam berasal dari masyarakat Jepang bernama kokedama kepada ibu-ibu PKK Desa Karangnongko. Kokedama sendiri berasal dari bahasa Jepang, koke (lumut) dan dama (bola). Jadi, tanaman diolah dengan membungkus akar menggunakan tanah dan lumut kering sehingga berbentuk bulat. Kokedama sudah berusia berabad-abad lamanya dan erat kaitannya dengan seni bonsai. Mitta sendiri tidak menggunakan lumut sebagai media tanamnya, melainkan diganti dengan serabut kelapa atau cocopeat. Hal ini dikarenakan lumut yang dipakai langka dan susah dicari, jika menggunakan lumut pun kita akan merusak habitat lumut itu sendiri. Penggunaan serabut kelapa atau cocopeat juga memanfaatkan limbah yang ada. Metode tanam ini utamanya dijadikan alternatif penghijauan lingkungan dengan kondisi keterbatasan lahan. Selain itu perawatan yang mudah hanya cukup dijemur sekali seminggu. Untuk penyiraman cukup direndam air, juga bisa disemprot degan air secukupnya. Tanaman yang digunakan biasanya menggunakan tanaman berukuran kecil seperti Lidah Mertua, Kaktus, Tanduk Rusa, Lidah Buaya dan lain-lain. Ibu-ibu PKK yang hadir di balai desa senang dengan wawasan baru yang didapat sehingga mampu menambah inovasi dalam mempercantik halaman atau ruangan rumah mereka.
Direview Oleh:
Maharani Patria Ratna