Tengaran – Perkembangan UMKM Desa Cukil beberapa tahun belakangan ini telah mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Salah satu usaha yang memiliki prospek keberhasilan paling besar adalah pembuatan besek ikan dari limbah pemotongan kayu. Dalam sebulan usaha ini dapat menghasilkan omset puluhan juta rupiah.
Mahasiswa KKN Tim 1 Undip pada hari Kamis (31/1) melakukan kunjungan kesalah satu paguyuban pembuatan besek ikan pindang yang berada di Dusun Gompyong. Usaha besek milik Bapak Munir ini sudah berjalan selama tiga tahun dengan omset mencapai 70 juta rupiah dalam sebulan. Sampai saat ini paguyuban ini telah mempunyai dua belas operator yang tersebar di Desa Cukil dan beberapa desa tentangga seperti Karang Duren , Kemetul dan Kenteng. Tugas dari operator ini adalah sebagai penyedia bahan baku dan tempat mengumpulkan sementara besek yang telah jadi dari para pekerja.
31016
Bapak Munir menjelaskan cara pembuatan besek ikan bandeng kepada mahasiswa KKN Tim 1 Undip 2019.

Produksi besek di paguyuban Bapak Munir menggunakan sistem bawa pulang. Sistem ini dirasa lebih efektif karena kebanyakan pekerjanya adalah ibu-ibu rumah tangga. Nantinya para pekerja mengambil bahan di operatornya masing-masing lalu proses pembuatannya dilakukan dirumah untuk nantinya dikumpulkan lagi ke operator. Sistem pembayaran upah pekerja dilakukan per hari sesuai dengan jumlah besek yang dihasilkan setiap orangnya. Besek yang diproduksi ada 11 ukuran dengan kisaran harga antara 400-850 rupiah sesuai ukuran. Dalam sehari paguyuban Bapak munir ini dapat menghsilkan 6000-7000 besek ikan, yang terkumpul dari semua operator yang ada.
Bahan baku besek didapat dari sisa-sisa usaha pemotongan kayu yang berada di Desa Cukil, Seriwen dan Patemon. Produk biasanya dikirim dan dipasarkan di daerah Solo dan Gemolong. Pengiriman biasanya dilakukan setiap dua hari sekali. (Rahma)