(18/01) Penguatan karakter menjadi salah satu program prioritas Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Dalam nawa cita disebutkan bahwa pemerintah akan melakukan revolusi karakter bangsa. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengimplementasikan penguatan karakter penerus bangsa melalui gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang digulirkan sejak tahun 2016.

Sesuai arahan Presiden Joko Widodo, pendidikan karakter pada jenjang pendidikan dasar mendapatkan porsi yang lebih besar dibandingkan pendidikan yang mengajarkan pengetahuan. Untuk sekolah dasar sebesar 70 persen, sedangkan untuk sekolah menengah pertama sebesar 60 persen.
 
“Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter sebagai fondasi dan ruh utama pendidikan,” pesan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy.
 
Tak hanya olah pikir (literasi), PPK mendorong agar pendidikan nasional kembali memperhatikan olah hati (etik dan spiritual) olah rasa (estetik), dan juga olah raga (kinestetik). Keempat dimensi pendidikan ini hendaknya dapat dilakukan secara utuh-menyeluruh dan serentak. Integrasi proses pembelajaran intrakurikulerkokurikuler, dan ekstrakurikuler di sekolah dapat dilaksanakan dengan berbasis pada pengembangan budaya sekolah maupun melalui kolaborasi dengan komunitas-komunitas di luar lingkungan pendidikan. Dikutip dari www.kemdikbud.go.id

Tim pengabdian masyarakat Universitas Diponegoro mengangkat topik tersebut untuk dijadikan sebuah edukasi yang disampaikan kepada SMA/SMK yang ada di Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara. Dra. Puji Astutui, M.Si menjadi pelopor dari kegiatan tersebut.

Pentingnya pola pikir Nasionalisme dan Toleransi menjadi hal utama dan harus mulai ditanamkan oleh pemuda-pemuda generasi masa depan. Materi diberikan dengan mengajarkan literasi komunikasi melalui media sosial, tentunya sebuah wadah yang menjadi trend di kalangan anak muda. Harapan dari kegiatan tersebut adalah sebuah gebrakan bagi pemuda untuk mulai menanamkan jiwa nasionalisme dan toleransi.